10/29/2012

Makna Dan Implementasi Ibadah Qurban

Makna Dan Ilplementasi Ibadah Qurban Mumpung masih dalam suasan Idul Adha 1433 H atau Hari Raya Qurban, setelah kemarin saya posting tentang Hari Raya Idul Adha Dan Lebaran Haji , sekarang saya persembahkan  posting selanjutnya tentang Makna Dan Implementasi Ibadah Qurban. Kurban juga sama dengan sedekah dan bisa menjadi backlink gaib yang dahsyat dalam bisnis dan kehidupan kita.. asal dilakukan dengan… Selamat menyimak.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Yusuf : 111)

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu ,

Merayakan ‘Idul Adha, mengingatkan kita akan peristiwa dan kisah penting yang syarat makna dalam kehidupan umat manusia. Yakni peristiwa perjalanan hidup baginda Nabi Ibrahim a.s., Siti Hajar, bersama putranya  Isma’il a.s.

Dari tahun ke tahun silih berganti, sejarah ‘Idul Adha, pengorbanan, dan haji disegarkan kembali agar semangat berkurban senantiasa berkobar dalam dada kita semua. Melalui sejarah ‘Idul Adha kita dibawa untuk melihat kekuatan iman ketika ia harus menjawab realitas kehidupan, menjawab kenyataan hidup yang harus dihadapi.

Sebagai seorang pejuang, Nabi Ibrahim merasa sedih, resah dan gelisah, karena pada usianya yang telah senja belum dikaruniai seorang anak yang akan mewarisi dan melanjutkan cita-cita dan perjuanganya. Meskipun demikian beliau tidak kenal putus asa, bahkan selalu berdo’a,

“Ya Tuhanku karuniakan kepadaku seorang anak yang shaleh.” (Q.S. As Shaffat : 10 )

Yang diminta Nabi Ibrahim bukan anak sembarang anak. Tetapi anak yang sesuai dengan cita-cita dan perjuangannya, yakni anak yang shaleh, anak yang mempunyai kepribadian sebagai manusia berakhlaq, beriman dan bertaqwa pada Allah Swt.

Sejarah mengungkapkan misteri yang luar biasa. Nabi Ibrahim yang telah berusia senja akhirnya dikabulkan do’anya oleh Allah Swt. Melalui Siti Hajar, istri keduanya, dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail, Akan tetapi, belum lagi tumbuh dewasa, keimanan Ibrahim kembali diuji Allah Swt. Melalui mimpinya beliaudiperintahkan untuk menyembelih Ismail. Terlintas dalam pikirannya, Ismail yang dibayangkan sebagai penerus perjuangannya, harus berakhir di ujung pedangnya sendiri. Orang tua manakah yang sanggup membayangkan tugas semacam itu?

Di sinilah iman dan ketulusan / Keikhlasan dihadapkan dengan realitas pilihan antara hati dan akal, antara cinta pada Allah dengan cinta pada anak. Nabi Ibrahim sempat mengalami kebimbangan antara cinta dan kebenaran. Dan akhirnya beliau memenangkan kebenaran serta cinta pada Allah daripada kecintaannya kepada anak satu-satunya yang dimiliki. Beliau meyakini dan menyadari bahwa semua miliknya pada hakikatnya adalah milik dan pemberian Allah. Bila dikehendaki, Allah berhak meminta kembali seluruh milik-Nya, baik itu di langit dan di bumi. Namun demikian, Nabi Ibrahim menempuh dengan cara-cara yang arif dan bijaksana, Ismail putra kesayangannya dipanggil untuk diperkenalkan pada hakikat hidup, cinta dan kebenaran. Dan Ismail mampu menangkap kegalauan hati ayahnya. Kepada ayahnya, Ismail memilih kata yang tepat dalam menyatakan pendapat, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. As Shaaffat : 102)

Ketika kedua insan itu dengan ikhlas menjalankan perintah Allah dan pisau pun nyaris menggores leher Ismail, tiba-tiba terdengar suara dari lembah memanggilnya, “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” ( Q.S. As Shaaffat : 105-107)

Demikianlah Nabi Ibrahim dan Ismail a.s., membuktikan keimanan dan kecintaan serta ketaatan pada Allah, sehingga Allah menggantinya dengan kenikmatan yang tiada tara yaitu seekor sembelihan domba yang besar. Dan peristiwa inilah yang melatarbelakangi disyari’atkannya ibadah qurban yang senantiasa kita laksanakan setiap tanggal 10 sampai 13 Dzuhijjah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Dari kisah yang disampaikan tadi, dapat kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif yang berserah diri secara total pada Allah Swt, sebagaimana Firman  Allah Swt dalam Qur’an Surat Al Imran 67, “Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, dia adalah seorang yang lurus dan muslim yang sejati dan ia tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Secara lughawi, hanif berarti lurus, murni dan kokoh, seorang yang hanif adalah mereka yang lurus imannya, tidak tercampur dengan kemusyrikan dan kebatilan, imannya kokoh serta tertanam dalam hati sanubari dan setiap gerak langkah hidupnya. Seorang yang hanif adalah mereka yang tidak membantah, menawar apalagi mengingkari perintah Allah Swt, sekalipun perintah itu sangat berat untuk dilaksanakan.

Sebagaimana firman Allah dalam Quran Surat Yusuf ayat 111 diatas, bahwa kisah dan cerita dalam Alquran bukanlah dongeng belaka, akan tetapi mengandung pelajaran yang berharga serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman serta menggunakan akal pikirannya.

Seperti kisah Nabi Ibrahim, ibadah haji dan qurban. Hal tersebut bukanlah semata-mata rangkaian ritual yang berdimensi spiritual, akan tetapi merupakan ibadah yang menempa diri seorang muslim sehingga menjadi seorang yang beraqidah benar dan  berakhlaq mulia.  Kesempurnaan ibadah dapat diraih apabila formal syariahnya terpenuhi dan tumbuhnya akhlaq sebagai wujud dari ibadah tersebut. Seperti ibadah haji dan qurban, di samping nilai-nilai spiritual, juga memiliki nilai-nilai sosial, kemanusiaan yang sangat luhur. Diantaranya adalah:

Pertama, Qurban mengajarkan kita untuk bersikap dermawan, tidak tamak, rakus dan serakah. Kurban mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Seseorang tidak pantas kenyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak orang disekitarnya yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Rasulullah Saw juga menegaskan dalam Hadis Riwayat Bazzaar, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”

Kedua, pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim a.s. adalah tentang qurban yang kemudian dilembagakan sebagai ibadah mahdhah setiap tahun bagi umat Islam. Sebagaimana dijelaskan Qur’an Surat As Shaffaat ayat 106-107, bahwa Allah Swt mengganti Ismail dengan seekor kibasy yang besar adalah sebagai balasan bagi kepatuhan, ketabahan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya dalam menjalankan perintah-Nya. Hal tersebut melatih kita untuk rela mengurbankan apa saja demi mendekatkan diri pada Allah Swt.

Secara formal ritual, kurban hanya menyembelih seekor hewan sekali setahun setiap 10 hingga 13 dzulhijah, akan tetapi secara spiritual kita dapat menangkap maksud yang lebih luas yaitu bagaimana agar kita dapat terlatih berkurban demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Apakah itu kurban waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa sekalipun untuk memperjuangkan apa-apa yang dipesankan Allah Swt lewat agama yang diturunkannya yaitu Islam. Hikmah spiritual seperti itu akan semakin jelas, kalau kita kembali merenungkan peristiwa qurban yang dijalankan Ibrahim As dan Ismail As.

Ketiga, secara simbolis qurban mendidik kita untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dan di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi, jika sikap dan tingkah lakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian, maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 179.

Keempat, Qurban mengingatkan pada kita agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai harkat dan martabat kemanusiaan. Digantinya Ismail dengan seekor domba menyadarkan kita, bahwa mengorbankan manusia di atas altar adalah perbuatan yang dilarang Allah Swt. Ibadah yang kita lakukan harus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia. Bahkan hewan qurban yang akan kita sembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, kejam, mungkar, dzalim dan lain sebagainya adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Islam. Dalam pandangan Islam membunuh manusia tanpa dasar yang dibenarkan syari’at, sama kejinya dengan membunuh seluruh umat manusia, demikian yang dijelaskan Allah dalam Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 32.

 Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamdu.

Qurban adalah usaha kita untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, mematuhi dengan segala daya dan upaya semua yang diperintahkan dan dengan sekuat tenaga menjauhi laranganNya. Begitu juga dengan ibadah haji, yang merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim a.s beserta keluarganya. Sebagaimana ibadah-ibadah lain, ibadah haji bukanlah ibadah formal yang hanya di ukur dari pelaksanaannya semata, di samping nilai ubudiyah dan spiritualnya, ibadah haji juga merupakan sarana membentuk pribadi yang taat, tunduk, patuh dan rela diatur undang-undang Allah Swt, berakhlaq mulia dan berkepribadian luhur.

Ukuran ketaqwaan seseorang tidak hanya dilihat dari kualitas ibadahnya semata, tetapi yang sangat penting adalah aplikasinya atau imlementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka tidaklah berlebihan jika Rasulullah Saw menyatakan, “Dan tidak ada pahala lain bagi haji yang mabrur kecuali surga.”

Demikian, rangkaian hikmah dan pelajaran dari Makna Dan Implementasi Ibadah Qurban. Semoga menjadi bahan renungan kita dan semoga kita mampu dan terlatih untuk berkurban demi mendekatkan diri pada Allah Swt. Apakah itu kurban waktu, tenaga, pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya sebagai blogger,, mari kita mulai dari yang ringan2 dulu misalnya kurban waktu dan tenaga, ini bisa diaplikasikan dalam kegiatan blogging. Kita selalu berkunjung ke blog kawan atau tetangga nah kurbankan waktu dan tenaga sebentar untuk melakukan klik pada iklan yang ada.. ini juga sama dengan sedekah dan bisa menjadi backlink gaib yang dahsyat dalam bisnis dan kehidupan kita .. asal dilakukan dengan tulus dan Iklas. Coba saja rasakan keajaibannya..

Akhirnya mari kita berdoa dan mohon ampun pada Allah Swt, seraya memohon Rahmat-Nya… Amin ya rabbal ‘alamin…

Disarikan dari : Khutbah Idul Adha


  1. Thanks ya.., comment please and review Alexa
  2. Kalau berkenan , bagikan pada rekan via tombol share di bawah.
  3. Mau langganan artikel ?, klik Disini, atau masukan email di sidebar

Bookmark and Share

Posted by : Saung Link ~ / Software Collections , Blog Tutorial , Internet Bisnis

Artikel Makna Dan Implementasi Ibadah Qurban diposting oleh Saung Link dengan Url http://www.saunglink.com/2012/10/makna-dan-implementasi-ibadah-qurban.html. Thank's atas kunjungannya. Jika Sobat berkenan silahkan share melalui kotak share di atas.. Jika di COPAS mohon sebutkan sumbernya dengan link aktif ke posting ini. Atau copy kode dibawah ini. Happy blogging.

Related Post:

21 comments:

  1. Makna kurban untuk para blogger intinya ada di alinea terakhir ya...

    ReplyDelete
  2. Mari Kita Implementasikan makna kurban untuk para blogger

    ReplyDelete
  3. Kurban memang identik dengan sedekah.. bila dilakukan dengan tulus.. punya dampak yang dahsyat bagi kehidupan kita.. percayalah

    ReplyDelete
  4. Mari kita terus kembangkan Budaya Kurban! :)

    ReplyDelete
  5. @Sandy57:Setuju sob mari kita mulai dari yg ringan2 dulu..

    ReplyDelete
  6. met hari raya qurban..mudah2an dgn berqurban harta yg kita miliki semakin barokah

    ReplyDelete
  7. haha bener juga, kurban tidak perlu harus menyembelih saja kalo belum mampu membuat diri kita untuk bermanfaat bagi orang lain pun sudah cukup

    ReplyDelete
  8. Mas... Selamat Idul Adha... Semoga menjadi lebih baik dihari-hari yang akan datang...

    ReplyDelete
  9. berkunjung sambil baca2 sob...sukses slalu :D

    ReplyDelete
  10. Assalamu alaikum, kunjungan balik sahabat, saya respek dengan artikelnya yang sangat menginspirasi, salam kenal sekalian saya follow sahabat. wassalam.

    ReplyDelete
  11. Mampir juga sob disini, kunjungan balik saya untuk sob, salam kenal:)

    ReplyDelete
  12. mudah mudahan tahun depan saya bisa kurban amin..
    tetapi mulai dari sekarang harus sudah di biasakan beramal, buat apa kurban tapi amal kita masih jelek.
    good luck sob

    ReplyDelete
  13. wah kami salut lihat tamplate blognya.,

    ReplyDelete
  14. blognya sangat keren dan informasinya sangat menarik,terpercaya.. makasih

    ReplyDelete